Apa itu "Bleketek Sunda" ?








 hallo gaesss.. beberapa hari yang lalu, saya pernah mendengar kata-kata "Bleketek". tapi masih belum tahu tentang nya, gimana dengan kalian gaes, ada yang tau dengan apa itu "Bleketek" ? mungkin kalau kalian orang Sunda (tidak bermaksud SARA) sudah tidak asing, atau sudah pada tahu, atau mungkin malah belum tahu ? hehehe tenang aja, di sini kita akan mencari tahu apa itu "Bleketek Sunda" atau yg sering orang sunda bilang. "Bleketek" ini biasanya muncul di hari ke"3" lebaran, bukan di hari pertama lebaran, ataupun hari kedua lebaran, wowww... kenapa hari ketiga ? hehehe sabar.. pelan-pelan kita simak, agar tambah pengetahuan kita tentang unik nya indonesia.

 Ternyata gaess, setelah saya cari tahu, Bleketek ini termasuk makanan lhooo... (dalem hati: waduh makanan apa pula ini ??)  itulah yang terbesit dalam benak saya pertama kali, saat belum tahu dan baru di kasih tahu tentang nama nya.. hehehe, maklum gaes, kurang piknik.. hehe... kembali ke topik. lalu makanan seperti apakah Bleketek itu ? cieee.. penasaran ? mari simak.

 Bleketek ini awalnya saya kira makanan atau masakan khas Sunda yang baru saya dengar karena masih asing bagi saya, tapi setelah melihat dan tahu dari bahan dan cara mengolahnya, ternyata ini bukan khas sunda, bisa jadi di tempat lain pun demikian, cuma beda nama atau mungkin belum di kasih nama,

 Sudah menjadi kebiasaan, atau sudah menjadi rutinitas sebagian masyarakat di indonesia ataupun di dunia, ciee duniaa... untuk saling berbagi makanan atau menyediakan makanan di hari Raya Idul Fithr, makanan yang biasa disediakan antara lain: Opor, Sambel Goreng kentang, Rendang, Ketupat, Lontong, Bihun, dll ataupun apalah karena banyak nya ragam kuliner di indonesia ini, maka menjadikan banyaknya perbedaan hidangan, jadi laper nih... hehehe 


 Biasanya setiap rumah atau keluarga membuat makanannya tidak sedikit, apalagi yang mempunyai keluarga besar, yang biasa berkumpul di hari Raya Idul Fithr, dan saking banyaknya biasanya pada hari kedua lebaran pun, makanan itu masih tersisa, atau masih ada. Ya bisa di jadikan Maklum lah karena setiap rumah atau keluarga membuatnya, maka jika kita ke rumah orang lain misal saudara, sanak famili ataupun tetangga biasanya mereka menyuguhi kita makanan tersebut, dan itulah yang membuat kebanjiran berbagai jenis makanan, dan jika makanannya di hangatkan pun masih terasa enak, kalau menurut saya, malah tambah enak hehehe. 

 Nah lalu di hari ketiga, atau di hari yang di tentukan dan juga yang di tunggu-tunggu bahkan hari yang di katakan hari kemunculan Bleketek ini *hadeehhh nulisnya ribet bener.. bilang kek, dari tadi. dan di hari ketiga itu, pun biasanya makanan yang ada di hari pertama dan kedua pun biasanya masih ada. Eeeng.. iiing.. Enggg... yeeyy... tibalah saatnya mengetahui cara mengolah bleketek ini.

 Masakan yang masih tersisa di hari pertama dan kedua itu di campur baur, atau di campur aduk jadi satu, lalu dihangatkan atau dipanaskan lagi, yang mana menjadi sebuah masakan dan makanan baru, dengan warna yang bebeda dan tentu dengan rasa yang berbeda pula, bahan berbeda dari originalitasnya dan nama yang berbeda pula.

 Itulah yang biasa pada kebanyakan orang sunda di sebut dengan Bleketek yang sudah bertahun-tahun menemani, dan menghiasai dapur masyarakat sunda di pedesaan, terkhusu di hari lebaran ke tiga atau lebih, maklumlah dari hari pertama lebaran sampai hari ketiga lebaran, mungkin sudah melewati beberapakali proses penghangatan hehehe. 
Bleketek ini biasanya di santap dengan uli (yaitu makanan yang terbuat dari ketan yang di kukus, dan dipotong-potong, dan enaknya sambil disantap bareng sama keluarga.

 Sekali lagi saya meminta maaf jika ada salah dalam tulisan ini, saya menulis ini tidak ada unsur SARA atau menyudutkan suku sunda, di sini justru kita bisa mengambil pelajaran, yaitu pelajaran tentang salah satu nama masakan nusantara yang jarang di dengar, dan juga selain dari pada itu, kita bisa mengambil pelajaran dari kearifan lokal masyarakat sunda yang tidak mau membuang atau menyia-nyiakan makanan karena sedang kebanjiran makanan. Bukankah Allah membenci membuang-buang makanan ?

 Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, dalam Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, pernah berkata, “Sesungguhnya Allah membenci kalian karena tiga kal: ‘katanya-katanya’ (berita dusta), menyia-nyiakan harta, dan banyak meminta.” 

 Dan para ulama sudah bersepakat bahwa menyia-nyiakan harta yang disebut dalam Hadist di atas termasuk juga menyia-nyiakan makanan. Bahkan, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam dalam sejumlah Hadits meminta kaum Muslim untuk memuliakan makanan, termasuk makanan jin sekalipun.Wallahu ‘alam.

Jika kalian suka, silahkan di share gaes, ke teman atau sodara, ataupun kalau ada teman kita yang orang sunda malah gak tahu tentang Bleketek sekarang bisa kita kasih tau, hehehe.

Comments